Disaat orang lain sibuk check in di cafe-cafe, restoran, tempat-tempat travelling di path. Gue check in di pos kesehatan desa, di posyandu, di puskesmas. And I’m proud of it :)
Know your roots, before you bloom :)
@1 day ago with 1 noteSharifah Shakinah ~ Shasha
a general practitioner -future internist /
a taurus / a choleric-sanguine / a lousy blogger / a full-time dreamer
This poetry. I never know what I'm going to say.
I don't plan it,
When I'm outside the saying of it, I get very quiet and rarely speak at all. - Rumi.
Disaat orang lain sibuk check in di cafe-cafe, restoran, tempat-tempat travelling di path. Gue check in di pos kesehatan desa, di posyandu, di puskesmas. And I’m proud of it :)
Know your roots, before you bloom :)
@1 day ago with 1 noteDulu uda sering banget marah kalo gue lagi stress dan nangis..
Dia selalu bilang “Yaudah, gak usah pake nangis”
Sekarang berasa banget ini berefek pada respon gue menghadapi stress..
Alhamdulillah punya keluarga super ngedidik, dengan caranya masing2 :)
So, is it normal if I have a crush on someone just because I read their tweets?
@1 week ago with 2 notesDan harus banget ya ide nulis muncul saat mata setengah watt gini, dan besok jaga pagi :(
Mungkin benar,
Mereka yang tidak memanfaatkan patah hati,
Sesungguhnya merugi.
Semakin dewasa semakin tua paradigma pun berkembang
Selerapun nampaknya berubah.
Yang menarik bukan lagi dia yang sekedar tampan,
sekedar ganteng,
sekedar kaya,
atau sekedar punya latar belakang pendidikan bagus.
Yang menarik menjadi dia yang baik hingga ketulusannya terasa,
dia yang menjadikan agama bukan hanya ritual belaka,
dia yang ramah dan bijaksana,
dia yang tegas namun bersahaja,
dan dia yang dewasa.
Pernah gak, dalam hidup, as long as you can remember, kita selalu membenci suatu hal dan hampir mengutuk tentang hal itu dalam setiap kesempatan, namun perlahan-lahan, entah dari mana tiba-tiba kita berhenti membenci hal itu. Begitu saja. Segala kesal, keluh, amarah yang tadinya membuncah menghilang entah kemana.
Saya begitu.
Well, gak separah itu sampai membenci sih, tapi dari hari pertama saya selesai koass dan ditampar balik ke dunia nyata, dimana teman-teman SD, SMP, SMA rata-rata sudah ‘mentas’, bekerja di perusahaan-perusahaan top, beasiswa S2 di luar negeri, gaji berjuta-juta, punya gadget—bahkan mobil sendiri, jalan-jalan ke luar negeri murni dengan uang sendiri, saya seriiing sekali meratapi nasip saya sebagai dokter.
Sekali lagi, mungkin benci adalah kata yang terlalu kasar, tapi tak sekali saya iri dengan kehidupan teman-teman saya itu. Seakan kurang cukup lama kuliah (6 tahun), saya masih juga diwajibkan dengan internship selama setahun dengan gaji pas-pasan yang bahkan dibawah UMR Kota Cirebon. (For the record, gaji saya sama supir di Jakarta lebih tinggi gaji supir sepertinya -.-)
Tapi saya kemudian jatuh cinta.
Saya mengajar di Medicuss Group, dan jatuh cinta dengan mengajar. Bicara di depan orang lain, membagi ilmu saya (yang padahal yah segitu-gitunya), berdiskusi, bertemu ratusan orang baru. Dan mungkin dari situ ‘kebencian’ saya mulai luntur.
Internship yang awalnya saya kutuk setengah matipun sepertinya turut berperan dalam lunturnya kebencian saya. Disaat teman-teman saya berkuliah dan bekerja di Prague, London, Liverpool, Birmingham, Singapore, Tokyo, dan puluhan kota-kota keren lainnya, saya harus melipir dari kehidupan kota besar dan terdampar di Arjawinangun. Tempat dimana pertama kalinya saat saya menuliskan alamat, saya literally menulis “Kompleks Perumahan VIP, Desa Tegalwangi”. Yap. Sekeren apapun nama perumahan saya, tetap tidak menampik adanya unsur kata ‘desa’ dalam alamat saya. Nasip.
Tapi, saya jatuh cinta untuk kedua kalinya.
Menjadi klinisi memang selalu menjadi pilihan saya, tapi saya belum benar-benar merasa jatuh cinta hingga bulan ke sembilan saya disini.
Seakan belum cukup menampar saya, saya diharuskan bekerja di puskesmas yang kepala puskesmasnya mewajibkan kami menghabis 4 dari 6 hari kerja turun langsung ke lapangan. Mengisi posyandu, posbindu, dan balai pengobatan langsung di desa. Kebetulan saya mendapatkan Desa Beberan. Di sini saya benar-benar merasakan terjun langsung ke lapangan. Bersama dengan Mbak Mimin, bidan Desa Beberan, saya melakukan balai pengobatan, mengisi penyuluhan, memimpin kelas ibu hamil, hingga melakukan homevisit pasien-pasien yang tidak mampu bangun. Masuk dan keluar gang, melewati sawah demi mencapai rumah warga, ikut memantau pemberian gizi seorang balita gizi buruk di desa saya.
Mungkin ini titik balik tamparan buat saya. Sementara teman-teman melihat betapa luasnya dunia (dan mungkin) terlupa dengan akarnya, Allah sengaja memaksa saya melihat akar saya. Melihat bagaimana bahwa di tanah kita yang katanya makmur ini masih ada balita berusia 20 bulan, dengan berat hanya 7 kg saja. Masih ada orang yang membayar 4 ribu demi obat BP yang pas-pasanpun harus menunggu berhari-hari. Masih ada orang yang bahkan ketika mengetahui saya dokter mencium tangan saya padahal beliau berusia mungkin tiga kali lipat usia saya, saking tak pernah tersentuhnya oleh kami-kami ini. Masih ada manusia-manusia itu, yang mungkin bila saya sibuk berkuliah di luar negeri tak akan pernah bisa saya bantu langsung. Perdulipun belum tentu mungkin.
Manusia-manusia ini, yang ketika bidan desa kami memerintahkan mencari kendaraan untuk merujuk pasien, berbondong-bondong mencari. Manusia-manusia ini, yang ketika saya datang, tak berhenti menyuguhi makanan. Manusia-manusia ini, yang hafal mati nama tetangga mereka, ketika saya yang bahkan sudah tinggal 8 bulan di komplek ini hanya tau satu nama tetangga, dan itu Bu RT. Manusia-manusia ini yang mungkin jika saya menghabiskan seluruh usia saya di kota, tak akan pernah saya temui. Kekeluargaan yang sungguh sangat kental, saat dimana tetangga benar-benar berarti saudara. Bukan cuma manusia berbatas tembok dengan rumah kita.
Seseorang pernah berkata bahwa manusia tidak akan mengetahui dirinya, sebelum dia mengetahui akarnya.
Mungkin ditengah keluh kesah saya soal betapa stuck dan menyedihkannya hidup saya di kabupaten, ini pelajaran yang ingin Allah tanamkan pada saya. Sebelum saya siap mentas (insya Allah) nantinya, saya harus mengingat dulu saudara-saudara se-agama, se-tanah air yang akses kesehatan masih sangat sulit mereka dapat. Sebelum saya bertumbuh, berbunga dan berbuah, saya harus kembali ke akar saya. :)
Jadi beberapa minggu yang lalu seorang teman pernah berkomentar tentang gimana enggak enaknya tempat saya mendapatkan internship. Bahkan, gosipnya tempat internship saya ini lumayan dihindari oleh adik-adik kelas saya (yang entah kenapa segitu hebohnya pengen milih wahana :p)
Saya cuma bisa tersenyum.
Ngenes gak sih berada di RSUD Arjawinangun selama 8 bulan?
Bulan-bulan pertama saya jalani dengan mengutuk keseharian saya di sana.
Gimana enggak?
1. Dari perubahan suhu, 6 tahun tinggal di wilayah pegunungan, dengan suhu rata-rata 24 derajat celcius, saya harus beradaptasi dengan suhu Cirebon yang rata-rata 32 derajat celcius. Itu di kota dan daerah tempat tinggal saya, di Arjawinangun yang nan gersang, suhu harian bisa sampai 34 derajat celcius. Percaya lah, suhu sangat berpengaruh pada stabilitas emosi, jangan aneh tweet saya kebanyakan di awal kepindahan kesini mengeluh soal suhu Cirebon yang…..bikin emosi terus-terusan.
2. Perubahan bahasa, 6 tahun kuliah di tanah priangan, dengan selalu dicekoki doktrin bahwa saya sebagai mahasiswa tanah jawa barat harus bisa bahasa Sunda. Nyatanya? Ilmu itu hampir tidak bia diaplikasikan di tanah Cirebon sama sekali. Bahasa yang campuran Jawa dan Sunda (sedikit) dengan logat yang medok, dengan keterbatasan bahasa Indonesia, cukup bikin saya senewen di awal-awal kepindahan saya.
3. Strictnya RS tempat saya bernaung. Satu yang saya pelajari dari Internship ini adalah, saya sudah sampai pada titik kedewasaan bahwa kuncinya adalah IKHLAS. Denger temen-temen sejawat yang dapet wahana-wahana yang membebaskan mereka libur panjang, denger temen-temen sejawat yang bisa bolos seenak jidat mereka, pada awalnya membuat saya mengutuk tempat ini. Gimana enggak? Selama stase bangsal saya harus datang jam 7 pagi tiap harinya, ikut apel, dan visit pasien satu per satu, apalagi ada beberapa dokter yang memperlakukan kita sama aja kaya koass (alias cuma sampai pem fis aja, gak kasih terapi). Awalnya saya benar-benar menyesali dan selalu membandingkan tempat saya dengan tempat lain yang (katanya) lebih enak.
4. Minimnya penghargaan. Tambahan lagi adalah minimnya penghargaan, dalam hal ini dalam bentuk bantuan dana pada kita-kita dokter internship. Mendengar teman-teman lain mendapat “bantuan dana” ya cukup buat saya iri juga.
Tapi itu dulu, 2-3 bulan awal saya berada di RSUD ini :)
2 hari yang lalu, saya dan teman-teman satu kelompok pendamping selesai mengadakan perpisahan dengan Tim IGD RSUD Arjawinangun.
Ya, saya bersama mereka selama 4 bulan ke belakang, dari 8 Januari hingga 2 Mei 2013.
Dan apakah saya masih menyesali nasip saya ditempatkan di RSUD Arjawinangun?
Sama sekali tidak :)
Dibalik segala kekurangan RSUD tempat saya bernaung, saya bertemu dengan puluhan manusia-manusia luar biasa baik. Manusia-manusia yang walaupun hanya kontak 4-8 bulan ke belakang, tapi (mungkin) sudah saya anggap seperti kakak-kakak saya sendiri.
Tidak cuma dokter-dokternya yang luar biasa baik, perawat-perawat, petugas administrasi, staff farmasi, portir, supir ambulance, hingga cleaning service yang luarrr biasa baik.
Orang-orang yang (mungkin) ditengah segala keterbatasan mereka, selalu berhasil membuat saya belajar banyak darinya.
Tim Dokter: Dr. Rizka, Dr. Andien, Dr. Fadlan, Dr. Fragma, Dr. Sri, Dr. Mute, Dr. Faisal, Dr. Rosidi, Dr. Nur, Fitri, untuk kerjasamanya, diskusi-diskusi dari soal pasien hingga becandaannya, untuk ilmunya, untuk kesempatan belajarnya, untuk kerjasamanya, untuk traktirannya :p, dan untuk contoh baik dan buruknya supaya kita bisa belajar lebih banyak.
Tim Perawat Pagi Pak Haji Sekhu, Mas Aryani, dan para Buteki (Mba Astri, Mba Isma, Mba Iip) untuk gosip pagi dan traktiran makan siangnya, untuk doa cepat nikahnya, untuk usaha menjodohkan dengan dokter-dokter singlenya :p, saya anggap kalian semua segitu sayangnya sama saya jadi pengen saya cepet-cepet dapet jodoh :p
Mba Mey, untuk ilmu pasien psikosomatisnya, Mba Yusi, buat jokes-jokes pornonya,.
Tim Perawat-perawat shift:
- Mas Hurrie, buat panggilan Ipehnya (Tapi serius, saya lebih seneng dipanggil Ipeh daripada salah nama terus, atau lebih buruk lagi dipanggil Say :p) buat traktiran minum setiap shift jaga, buat becandaannya.
- Mas Eka, yang superrr baik sudah seperti kakak sendiri, buat nasehat kalo nanti nikahnya, buat cerita-cerita pengalaman hidupnya, mudah-mudahan bisa ketemu suami yang bisa diandelin dan bapak rumah tangga yang baik kaya Mas Eka
-Mas Her, yang nakut-nakutin mulu dengan cerita pelet khas Cirebonnya :D buat seluruh info trip jalan-jalannya, dan seluruh traktirannya! Jaga sama Mas Her selalu paling aman soal makanan :)) Semoga rezekinya lancar car car! Oiya dan juga seperti mas Eka, mudah-mudahan bisa ketemu suami yang bisa diandelin kaya Mas Her.
-Mas Adi, si SpKJ satu ini, buat seluruh becandaannya, buat tim lawan kartu yang seimbang, mudah-mudahan ga galau dan ga taruhan pake BB lagi :))
-Mas Yayan, my favorite nurse! Udah kaya kakak sendiri kalo sama orang satu ini, buat curhat perjodohannya, buat ramalan (yang meragukannya) buat masak-masak seafood dan diajak muter-muter penjuru Cirebon demi nyari seafood segar dan murmernya. Semoga yakin terus sama calonnya dan cepet nikah! :D
- Mas Dayat, mas bijak satu ini, terimakasih buat petuah (lagi-lagi) perjodohannya, dan selalu ngingetin sholat. Semoga cepet ketemu gantinya si HP yang bikin mas galau teruus.
- Mas Oji, mas perawat terganteng satu RSUD kayaknya, buat stok lagu-lagu dan hiburan lewat autoteks alaynya. :))
- Mas Zaenuji, CI satu ini banyak banget ngasih ilmu buat saya, buat bantuan nginfusnya, bantuan skill ngejaitnya, buat nasehat-nasehat tentang islam selama ini.
- Mas Agus dan Mas Fiqih, duo newbie IGD yang cengengesan mulu dan gak pernah marah walopun saya minta tolong terus
- Mas Robi, Mas Tono, Mas Khotim, Mas Alay alias Ali, Mas Kunandi, Mas Udin, yang walaupun interaksinya minim tapi setia membantu saya selama 4 bulan di IGD.
Tim Admin:
- Jeng Siska aka Agung, hihi manusia satu ini setia memberikan stok film buat fakir TV Series kaya saya
-Mas Wawan, Mba dinar and the genk yang selalu direpotin karena saya sering banget nyuruh keluarga pasien ke admin hihihi
Tim Portir:
-Mas Aan, ini partner portir yang nightmareee haha, karena entah kenapa tiap jaga sama Mas Aan selaluuu aja rame. Tapi saya terharu pisan pas mas Aan dan pas Mas Boni secara khusus ngirimin Jahe anget karena saya lagi kehabisan suara :”)
-Mas Sarjono and the genk, buat selalu siap sedia saat saya minta tolong dorong pasien.
Tim Ambulance:
-Mas Yakto, Mas Opik, Mas Pendi, lawan super jagoan soal capsa. Mudah-mudahan ilmu capsa dari kalian mengendap terus! :))
Dan seluruh staff IGD Arjawinangun yang gak bisa saya sebutkan satu per satu.
Sungguh, saat saya masuk RSUD ini sama sekali gak ada di bayangan saya bakal ketemu satu tim besar seperti kalian, dengan kebaikan kalian, ke murah hatian kalian (setiap dapet “obyekan” gak pernah absen ngirim makanan dan atau minuman), respek dan cerita-cerita pengalaman hidup kalian.
I’m definitely gonna miss you ALL!
Jadi buat siapapun yang bilang hidup saya suram di sini, atau siapapun yang dengan entengnya mencemooh tempat internship saya hanya karena tempat internship saya strict dan gak dapet uang.
Saya dapet yang jauh lebih besar dari uang, saya dapet keluarga )
Tulisan ini saya tujukan untuk kelompok internship IGD saya, periode Januari-Mei 2013, seluruh dokter organik IGD RSUD Arjawinangun, dan seluruh perawat IGD RSUD Arjawinangun.
Cheers!
@2 weeks ago